Dapur Berdinding Biru
October 31, 2009 by Artawan
Filed under Dapur, Tips Property
Dua kabinet dapur gampang dijangkau warna yang berbeda membuat tampilan dapur anda makin variatif . Ada beda bentuk, ekspos tekstur dan warna dominan. Jadilah kabinet-kabinet yang mengubah wajah dapur menjadi atraktif.
“Tak kenal maka tak sayang”. Ungkapan itu dapat menjadi inspirasi membuat penempatan kabinet “yang gampang dikenali, sehingga kita bisa terus menyayangi”. Dua kabinet atas dapur ini menjadi etalase. Kabinet bawahnya sebagai gudang mini perabot dan peralatan makan. Dengan begitu, siapa pun pengguna dapur, dapat mengenali di mana peralatan dan perabot disimpan, dengan mudah.
Kita bahkan dapat membuatnya lebih optimal dan atraktif. Perhatikanlah, kiri kabinet atas terdapat rak berpintu papan. Rak berperan sebagai wadah perabot dapur yang rentan terkena debu. Bentuk rak menyesuaikan dengan letaknya yang bersebelahan dengan jendela dan pintu samping.
Tengah kabinet menggunakan ambalan dua susun. Yang satu berbentuk datar dan memanjang, yang lainnya berbentuk bilah papan yang disusun vertikal. Bilah-bilah papan menegaskan ukuran dan fungsi, sedangkan ambalan di pojok kabinet menjadi pembatas letak dapur. Seluruh ambalan berguna sebagai wadah untuk perabot dan aksesori yang sengaja terekspos.
Di sebelah ambalan itu terdapat rak berpintu kaca buram. Bentuk kotak dengan lis takon silver membuatnya tampak menonjol. Rak ini berfungsi sebagai wadah makanan instan. Kemasan makanan instan berwarna-warni membuat tampilan rak menjadi lebih indah.
Kabinet bawah berbentuk kotak. Pelapis pintunya tampil beda. Kiri kabinet menggunakan dua rak dengan hiasan pintu yang menonjol. Tonjolan itu diperoleh dari bentuk segitiga plastik berwarna silver. Ini untuk menegaskan fungsi rak di bawah kompor. Hiasan itu juga menjadi aksen di kabinet bawah.
Laci susun tiga tampil dengan sentuhan desain yang lain lagi. Handelnya melengkung, terbuat dari stainless steel. Lengkungan itu tampil menyeimbangkan rak kabinet atas yang berbingkai silver.
Inilah desain kabinet yang berani unjuk desain tanpa menghilangkan fungsi. Wajah kabinet berkarakter, wadah untuk perabot terpenuhi. sumber iDEAonline/Rasantika M. Seta
Ranjang Antik
October 31, 2009 by Artawan
Filed under Kamar Tidur, Tips Property
Ranjang yang berdesain etnik apalagi yang antik sering kali berkesan horor. Dalam menata interior kamar tidur kita boleh menabrak arus. Kalau sekarang berkembang gaya penataan yang simpel, tidak haram kok hukumnya menata ruangan dengan gaya etnik.
Sebetulnya, apa pun gaya penataan di dalam ruangan sah-sah saja dilakukan. Kalau ingin gaya penataan etnik mirip di rumah-rumah zaman dulu, juga boleh kok. Terlebih jika ketika berada di sana pikiran dan tubuh Anda bisa menjadi lebih rileks.
Membangun kamar tidur dengan tema etnik tertentu sangat mungkin dilakukan di negeri kita. Sampai saat ini masih cukup banyak ditemui furnitur-furnitur bergaya etnik, baik itu yang tergolong benda antik maupun furnitur repro berdesain etnik.
Misalnya untuk kamar tidur, masih mudah kok menemukan ranjang dari kayu jati utuh. Jika modelnya cocok, ranjang ini bisa diborong ke kamar tidur dan menjadi tempat peraduan yang nyaman.
Di satu sisi, kehadiran ranjang berdesain etnik ini dapat memberikan kesan antik di ruangan. Namun, hati-hatilah menata kamar tidur dengan furnitur berdesain etnik. Salah-salah, suasana ruangan berubah horor. Supaya enggak bersuasana seperti itu, coba perhatikan hal-hal ini,
1. Indonesia begitu kaya dengan tradisi dan kebudayaan, pilihlan furnitur yang memiliki desain etnik yang Anda suka atau bisa sesuaikan dengan daerah asal Anda. Selain lebih familier, desain dari daerah asal dapat mengingatkan kembali tradisi masa lalu daerah Anda.
2. Jangan terlalu banyak menempatkan barang-barang bernuansa etnik, terlebih jika unsur desainnya berbeda-beda. Mungkin Anda perlu menentukan tema khusus di ruangan itu.
3. Buatlah jendela yang lebih besar dari ruangan lainnya. Furnitur etnik cenderung berwarna gelap karena itu keberadaannya dapat membuat ruangan terkesan suram. Jendela besar dapat memasukkan cahaya lebih banyak ke dalam ruangan. Dengan demikian, ruangan bisa menjadi terang. Selain itu, jendela besar juga membuat sirkulasi udara ruangan menjadi lancar.
4. Supaya tema ruangan tercipta, kombinasikan keberadaan furnitur utama dan aksesori ruangan dengan elemen ruangannya. Misalnya, gunakan teraso atau tegel lawas sebagai lantai agar suasana etnik lebih terasa.
Tentu, hal-hal di atas masih dapat dikembangkan lagi sesuai dengan kondisi. Sekali lagi, yang penting jaga agar ruangan tak berkesan horor bagi Anda, terlebih lagi bagi anak-anak. sumber iDEAonline Putri Dwimirnani
Dijual Tanah di Bali DLPLFS0137
October 31, 2009 by Artawan
Filed under Dijual Tanah, Gianyar, Ubud
Tanah Detail
Area : Gianyar Bali
Lokasi : Tegalalang Ubud Gianyar Bali
Harga : Rp. 85.000.000/are
Status Tanah : Sertifikat Hak Milik (SHM)
Luas Tanah : 5000 m2 atau (50 Are)
Panjang Depan : -
Lebar Samping : -
Posisi Tanah : Terasering
Akses Jalan : 8 meter
Jalur PLN : Ada
Jalur PDAM : Ada
Jalur Telphone : Ada
Pemandangan / View : Lembah di Tegalalang Ubud Gianyar Bali
Description : Dijual Tanah terasering di Tegalalang Ubud Gianyar Bali dengan luas 50 are harga murah hanya 85 Juta Rupiah per are dengan View Lembah Tegalalang Bali delapan kilometer saja ke Monkey Forest Ubud Gianyar Bali sangat cocok bagi anda yang ingin membangun villa ataupun untuk investasi. Dijual Tanah di Ubud Gianyar Bali DLPLFS0137 oleh Dotlahpis.com
Dijual Tanah di Bali DLPLFS0136
October 31, 2009 by Artawan
Filed under Dijual Tanah, Gianyar, Ubud
Tanah Detail
Area : Gianyar Bali
Lokasi : Tegalalang Ubud Gianyar Bali
Harga : Rp. 70.000.000/are
Status Tanah : Sertifikat Hak Milik (SHM)
Luas Tanah : 8000 m2 atau (80 Are)
Panjang Depan : -
Lebar Samping : -
Posisi Tanah : Terasering
Akses Jalan : 5 meter
Jalur PLN : Ada
Jalur PDAM : Ada
Jalur Telphone : Ada
Pemandangan / View : Lembah di Tegalalang Ubud Gianyar Bali
Description : Dijual Tanah terasering yang sudah ditanami ratusan pohon jati yang tumbuh subur di Tegalalang Ubud Gianyar Bali dengan luas 80 are harga murah hanya 70 Juta Rupiah per are dengan view sawah yang asri dan View Lembah Tegalalang Bali delapan kilometer saja ke Monkey Forest Ubud Gianyar Bali sangat cocok bagi anda yang ingin membangun villa ataupun untuk investasi. Dijual Tanah di Ubud Gianyar Bali DLPLFS0136 oleh Dotlahpis.com
Dijual Ruko di Bali DLPRFS0135
October 28, 2009 by Artawan
Filed under Disewakan Ruko, Property Disewakan
Ruko Detail
Area : Kuta Bali
Lokasi : Jalan Sunset Road Kuta Bali atau Jalan Dewi Sri Kuta Bali
Harga : Rp. 2.200.000.000
Status : Sertifikat Hak Milik (SHM)
Luas Tanah : 76,7 m2 atau (0,77 Are)
Luas Bangunan : 202,5 m2 (3 Lantai masing – masing 4,60 m x 15 m)
Arah Bangunan : Barat
Arah Angin Masuk : Dari Barat
Jalan : 18 meter
Parkir : Ada
PLN : 2200 watt
PDAM : Sumur Bor
Telphone : 2 line
Pemandangan/View : Jalur Bisnis di Jalan Sunset Road Kuta Bali atau Jalan Dewi Sri Kuta
Description : Dijual RUKO di Jalan Sunset Road Kuta Bali terletak di Pusat Bisnis yang berkembang pesat seiring dengan dibukanya Hypermarket CAREFOUR dikawasan ini. Ruko yang terletak hanya 200 meter dari Carefour Sunset Road memerlukan waktu hanya 1 menit menuju carefour kuta dan hanya 2 menit menuju Bali Galleria Simpang Siur Kuta sangat strategis untuk membangun usaha bisnis anda di kawasan Kuta Bali. Ruko ini terdiri dari 3 lantai masing – masing lantai mempunyai luas 4,60 meter kali 15 meter 2200 watt listrik 2 line telphone jadi bagi anda yang ingin membuka bisnis atau membuka cabang bisnis anda di bali tunggu apa lagi saya rasa Ruko ini sangat cocok untuk anda. Dijual Ruko di Jalan Sunset Road Kuta Bali DLPRFS0135 oleh DotLahPis com
Tips Membuat Taman
October 27, 2009 by Artawan
Filed under Taman, Tips Property
Kalau anda ingin membuat taman anda tidak boleh sembarangan. Jika tidak direncanakan dengan cermat hanya akan menciptakan semak dan mengotori pemandangan.
Sebuah taman diciptakan dengan tujuan untuk menghadirkan keindahan. Indah tidaknya sebuah taman ditentukan dari pemilihan material softscape dan hardscape, komposisi warna dan bentuk, serta keharmonisan desain secara keseluruhan.
Beberapa proses perencanaan sering diabaikan karena terlihat sepele, padahal sebenarnya sangat menentukan keindahan taman nantinya. Beberapa hal berikut harus dicermati, agar taman yang tercipta benar-benar sesuai dengan harapan kita.
Dua hal pokok yang harus disiapkan adalah persiapan desain atau konsep taman dan persipan teknis. Persiapan desain adalah pembuatan rancang gambar taman sesuai dengan konsep desain taman yang diinginkan.
Pembuatan pola lahan, persiapan instalasi listrik dan air, peletakannya, dan penentuan titik tanam adalah beberapa hal yang harus terangkum dalam konsep desain yang dibuat.
Desain ini akan menjadi pedoman untuk melakukan perencanaan-perencanaan berikutnya. Untuk membuat desain ini, harus memperhatikan beberapa pekerjaan teknis yang akan dilakukan untuk membuat taman. Berikut uraiannya.
Menyiapkan Lahan
Kegiatan ini meliputi pekerjaan penggalian dan pembalikan tanah, pengurukan, penggemburan, dan pemberian pupuk atau penambahan unsur hara dalam tanah. Selain untuk mempersipakan lahan tanam yang siap ditanami dan memiliki kontur yang sesuai harapan kita, proses ini juga membebaskan lahan dari gulma yang akan mengganggu pertumbuhan tanaman nantinya.
Proses ini sering dilewatkan karena sering kita tidak sabar untuk segera atau langsung menanam sehingga hasilnya sering mengecewakan: tanaman mati dan tidak tumbuh baik karena terganggu gulma.
Membuat Konstruksi Taman
Dalam proses ini perencanaan dan pembuatan jalan setapak dilakukan. Elemen ini penting untuk jalur sirkulasi di taman sehingga segala aktivitas di taman yang dilakukan kemudian hari tidak mengganggu keberlangsungan tumbuhnya tanaman dan elemen lainnya. Sesuai dengan luasnya taman, desain dan material jalan setapak bisa dibuat dalam berbagai pilihan.
Menentukan Elemen Keras Taman (Hardscape)
Yang termasuk dalam elemen keras taman adalah aneka pot, bebatuan, lampu, dan aksesori lain yang akan dipakai sebagai pelengkap taman, baik yang berperan fungsional maupun estetis.
Elemen Lunak Taman (Softscape)
Aneka jenis tanaman, pilihannya direncanakan di proses ini. Hal yang dipertimbangkan menyangkut masalah jenis tanaman (perdu, semak, dan pelindung). Tentang wama (bunga maupun daun) jugs menjadi hal yang harus diperhatikan karena menentukan kesemarakan taman yang tercipta dan harmonisasi wama yang ada.
Karakter setiap tanaman menyangkut: kecepatan tumbuh, bentuk tajuk, ketahanannya dalam merespon cuaca (baik panas matahari maupun hujan/air), menentukan pilihan jenis tanaman yang akan digunakan.
Penanaman dan Peletakar Hardscape
Melakukan penanaman tanaman dimulai dari jenis tanaman pelindung (yang tinggi) dan seterusnya adalah tanaman yang lebih rendah sampai ke tanaman penutup tanah. Penyebaran batu koral, kerikil, step stone, dan pemasangan lampu taman dan aksesori lain dilakukan setelah penanaman.
Penyebaran batu koral didahului dengan peletakan ijuk di permukakan yang akan diberi batu koral untuk menjaga sirkulasi air agar dapat tetap meresap ke dalam tanah dar taman tak tergenang.
Pembersihan Lahan
Kegiatan pembersihan sampai sisa hasil pengerjaan taman. Setelah taman bersih dari sampah sisa, baru dilakukan penyiraman secukupnya. Dan selanjutnya dilakukan perawatan rutin seperti pemangkasan dan penyiraman yang teratur. sumber Tabloid Rumah/Johanna Erly Widyarti.
Dijual Rumah di Bali DLPHFS0134
October 27, 2009 by Artawan
Filed under Dijual Rumah, Rumah di Denpasar
Rumah Detail
Area : Denpasar
Lokasi : Jalan Tukad Balian Renon Denpasar
Harga : Rp. 750.000.000
Status : Sertifikat Hak Milik (SHM)
Luas Tanah : 130 m2 atau (1,3 Are)
Luas Bangunan : 160m2
Arah Bangunan : -
Arah Angin Masuk : -
Jalan : 6 meter
Kamar Tidur : 3
Kamar Mandi : 3
Ruang Makan : Ada
Kitchen / Dapur : Ada
Laundry : -
Kolam Renang : -
Garase : Ada
Parkir : Ada
PLN : 2200 watt
PDAM : PDAM
Telphone : -
Pemandangan/View : Komplek Perumahan yang asri
Description : Dijual rumah Lantai 2 di Jalan Tukad Balian Renon Denpasar Bali, sangat cocok dipakai untuk tempat tinggal di Renon pusat kota Denpasar. Rumah baru siap huni yang sudah dilengkapi dengan Ac Hot Water dan Kitchen Set. Dijual Rumah di Jalan Tukad Balian Renon Denpasar Bali DLPHFS0134 oleh DotLahPis com
Apartemen di Bali
October 23, 2009 by Artawan
Filed under Perkembangan Property di Bali
Salah satu hal yang menyebabkan seseorang memutuskan untuk hidup dan tinggal di Bali adalah karena Bali relatif mempunyai sesuatu yang lugu, murni, jauh dari tanda-tanda ikonik yang berkesan angkuh dan jumawa seperti di kota-kota besar lainnya di Indonesia, sebutlah seperti di Jakarta atau Surabaya.
Memang tidak ada yang 100% murni selalu terdapat ideologi di baliknya, meski ideologi itu bernama ‘idealisme kapitalisme’ karena ujung-ujungnya toh dijual juga, karena bagaimanapun Bali sangat identik dengan dunia pariwisata yang tak terlepas dari kapitalisme itu sendiri.
Seiring dengan perjalanan waktu, percepatan pertumbuhan komoditi pariwisata di Bali sangat kuat terlihat, terutama dalam tiga tahun terakhir. Selalu ada wilayah baru yang belum kita akrabi, membuat pulau ini semakin tajam terdiri dari berbagai lapis dimensi.
Perbedaan dimensi ini menjadi semakin nyata dalam dua arti. Pertama, semakin jauhnya dari akar budaya dan kebiasaan hidup masyarakat Bali. Yang kedua, terjadinya penumpukan bangunan di wilayah-wilayah tertentu saja walaupun, ya itu tadi, merupakan hal yang sah-sah saja karena ada pertaruhan nilai investasi.
Dari pesisir Barat sampai ke Selatan hingga ke pelosok-pelosok desa yang terpencil kita melihat bangunan-bangunan komersial tertentu, pembangunan Villa, hotel butik dan apartemen yang mulai menjulang. Semuanya menurut saya ‘sahih’, tetapi cenderung menjadi pemandangan yang sama seperti yang dapat kita jumpai di tempat-tempat lain di luar Bali.
Lihatlah kotak-kotak kaca yang saling bertumpuk vertikal di depan pantai atau di tengah padang, seakan tampil nyaris dalam satu keseragaman, tidak ada bedanya dengan bentukan-bentukan yang ada di Jakarta, Singapore, Gold Coast atau Hong Kong.
Eksotisme budaya dan sedikit atmosphere magis yang kental menyelimuti berbagai tempat di Bali menjadi daya tarik luar biasa, terutama bagi dunia pariwisata, perlahan-lahan mengalami pergeseran. Tidak bisa dipungkiri pergeseran tersebut mungkin memang harus terjadi sebagai jawaban dari permintaan pasar, sebagai bentuk perkembangan atau mungkin tanggung jawab atas reputasi Bali sebagai tujuan pariwisata dunia.
Jalan-jalanlah di daerah Sunset Road, Pecatu atau Blue Ocean (daerah Double Six yang terkenal itu), dan masih banyak tempat-tempat lainnya yang sedang dalam tahapan pembangunan. Dengan mudah Anda akan menjumpai unit apartemen empat sampai lima lantai, yang akan membuat Anda merasa seperti bukan di Bali lagi.
Bagi saya sebelumnya, Bali adalah deretan bangunan-bangunan yang ramah (karena tidak menjulang tinggi seolah angkuh tak terjamah) dengan fasad yang kontekstual dengan lingkungan. Sedikit terkesan kampung jauh dari kesan gemerlapan. Sebuah konstruksi citra diri yang melekat sekian lama; potret kreativitas yang kental dengan budaya.
Walaupun secara langsung berhubungan dengan masyarakat, budaya dan peradaban luar, Bali jauh dari kesan gemerlap nan jumawa, hotel, villa, resor, kafe-kafe hadir dalam bentuk yang manusiawi, hangat dan akrab dengan ukuran kemewahan tersendiri.
Waktu memang bergerak dan semua yang tidak mau menjadi sejarah harus larut di dalamnya. Begitu juga pertumbuhan akomodasi di Bali dengan fenomena maraknya pembangunan apartemen saat ini. Dapat dimengerti, jika percepatan pembangunan yang terjadi seakan-akan menjadi momen balas dendam setelah sempat beberapa saat mengalami keterpurukan akibat bom bali yang dua kali meluluh lantahkan sektor pariwisata, yang menyebabkan hampir setiap sendi kehidupan di Bali berinteraksi secara langsung dengannya.
Apartemen atau rumah publik pada dasarnya adalah ‘merumah’ di lahan yang semakin terbatas, jawaban untuk memiliki rumah dengan fasilitas yang kompak dan efisien, atau mempunyai rumah yang terjangkau di area favorit.
Selain itu sebagai pilihan gaya hidup atau bahkan bisa menjadi representasi kelas tertentu, karena pertumbuhan ekonomi kelas menengah baru hampir di banyak tempat di Indonesia atau di negara lain, yang mana golongan ini notabene mempunyai daya mobilitas dan daya beli yang tinggi, sehingga merupakan sasaran yang pas untuk dieksploitasi seluruh kebutuhannya.
Kita tidak bisa menutup mata. Pembangunan-pembangunan ini merupakan geliat roda ekonomi di Bali yang bukan terjadi dengan ‘tidak sengaja dan tanpa upaya’, adalah upaya integral untuk kembali menaikkan pamor Bali sebagai tempat favorit tujuan wisata dunia. Salah satu indikasi pertumbuhan ekonomi memang dengan mudah terlihat secara makro dengan pesatnya pertumbuhan properti termasuk apartemen-apartemen ini, dan menjadi lahan investasi menarik bagi para penanam modal baik dalam maupun luar negeri.
Pertanyaannya sekarang, apakah pertumbuhan apartemen-apartemen tersebut terjadi secara sembarangan atau terkonstruksi? Mungkin ada baiknya bagi pihak-pihak terkait untuk mencermati secara mendalam dan mempunyai kontrol yang ketat terhadap pemberian ijin membangun misalnya, supaya tidak menjadi pertumbuhan yang silang sengkarut dan merugikan banyak pihak. Karena berbicara tentang pertumbuhan infrastuktur (baca: apartemen) melibatkan tanggung jawab yang kompleks baik dari pihak pengembang dan pemerintah Bali itu sendiri.
Bagi pemerintah tentu saja merupakan hal yang menguntungkan, tetapi terjadi kebijaksanaan yang ‘tidak bijaksana’ seperti pemberian ijin bangunan secara sembarangan. Satu bangunan dapat lolos didirikan tetapi tidak satu atau dua kali terjadi, pada bangunan yang lain terdapat revisi terhadap bentuk desain yang tidak sesuai dengan bentuk ‘tradisional Bali’ yang berujung pada pemberhentian pembangunan. Atau bahkan perubahan desain bangunan secara total.
Tentu saja hal ini mengakibatkan kerugian bagi pihak penanam modal, dan menyebabkan jalur investasi tersendat karena ketidaksiapan pihak terkait menyiapkan perangkat peraturan yang menjamin amannya investasi tersebut dilakukan.
Penyebaran lokasi, hal ini sangat penting supaya tidak terjadi penumpukan di daerah-daerah tertentu seperti yang sudah sempat disinggung sebelumnya yang bisa mengakibatkan persaingan harga yang tidak sehat, menimbulkan lapisan dimensi yang semakin dalam. Yang tentu saja pada akhirnya juga merugikan semua pihak. Secara mikro juga harus terdapat cultural profit di dalamnya.
Jangan sampai dengan maraknya pembangunan tersebut menggerus pesona eksotisme budaya dan pesona alam Bali yang menjadi komoditas pariwisata utama. Jika muncul permasalahan baru, seperti lapis-lapis dimensi yang bertumpuk absurd, kalau primadona tersebut hilang harus ada alternatif gantinya, siapkah??? (Text: Georgie T. Kadarusman; graphic: bh) • Sumber Georgie T. Kadarusman Interior Architect.
Bisnis Properti Indonesia Sudah Kebal Krisis
October 23, 2009 by Artawan
Filed under Perkembangan Property di Bali
Sekarang banyak kalangan yang khawatir dan bertanya-tanya akankah dampak krisis finansial global yang terjadi saat ini akan terulang kembali seperti yang pernah kita alami bersama sepuluh tahun lalu ketika krisis moneter menghancurkan perekonomian Indonesia.
Sebenarnya pertanyaan semacam ini telah terlontar lima tahun lalu ketika ekspansi bisnis properti di negeri kita ini begitu bergelora. Pembangunan ruko, apartemen, mal,dan pusat perbelanjaan tak lagi hanya berlangsung di Jakarta, tetapi sudah menjalar ke seluruh penjuru kota-kota besar di Indonesia.
Nah, sekarang pertanyaan yang sama muncul kembali ketika krisis finansial global yang diawali dari Amerika Serikat menjalar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Sangatlah sulit untuk meyakinkan semua orang, apa pun jawaban yang kita berikan. Namun, sangatlah mudah untuk mengatakan bahwa dampak krisis finansial global saat ini tidak akan mengguncang perekonomian negara kita, apalagi menghancurkannya seperti yang terjadi tahun 1998. Mengapa demikian? Karena, situasi dan kondisi sosial ekonomi dan politik di negara kita saat ini amatlah berbeda bila dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu.
Krisis yang terjadi pada saat itu (tahun 1998) adalah puncak dari sebuah perjalanan sejarah bangsa dengan politik yang sangat sentralistik dan tertutup. Belum lagi perekonomian yang sangat bergantung pada utang luar negeri, baik pemerintah maupun pihak swasta.
Dikendalikan pengusaha
Saat itu bank-bank swasta yang dimiliki para konglomerat dan bank-bank pemerintah yang dikendalikan pengusaha yang dekat dengan penguasa begitu berambisi membangun bisnis propertinya yang bersifat jangka panjang dan ditopang dengan dana bank yang bersifat jangka pendek.
Kalangan perbankan pun jorjoran mengucurkan dananya untuk membiayai proyek-proyek properti skala besar alias megaproyek. Ketika itu para bankir demikian agresif menyalurkan kredit ke sektor properti, pengawasan dari Bank Indonesia juga masih sangat lemah. Para bankir leluasa mengucurkan dana pihak ketiga untuk membiayai proyek-proyek properti yang digarap oleh kelompok usahanya sendiri.
Waktu itu, praktik pelanggaran legal lending limit (batas maksimum pemberian kredit- BMPK) dan mark up nilai proyek sangat lazim dilakukan. Ketika perekonomian nasional sedang sehat, melaju kencang di atas 7 persen per tahun, semua borok-borok itu bisa ditutupi. Toh, ada juga beberapa bank yang ”jebol” karena melakukan pelanggaran yang ”kebangetan”.
Ambruknya Bank Summa (1991), Bank Pacific (1995), dan Bank BHS (1997) menunjukkan betapa berbahaya dan besarnya dampak negatif yang muncul dari ”perselingkuhan” perbankan dan pengembang. Maka, ketika krisis mata uang yang terjadi di Thailand yang berawal dari ekspansi bisnis properti lalu menjalar ke Indonesia, tersungkurlah bank pemerintah dan swasta yang sangat getol membiayai bisnis properti waktu itu.
Para pengembang yang tadinya berkibar-kibar dengan sederet proyek kebanggaannya langsung tersungkur. Mereka bangkrut karena tidak kuat lagi menanggung beban utang yang tiba-tiba menggunung seiring dengan anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. Para pengembang pun ramai-ramai masuk ruang gawat darurat Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Semua pengembang papan atas menjadi pasien BPPN.
Namun, pada 1999-2000, beberapa pengembang yang kebal krisis mulai kembali menggarap bisnis properti. Restrukturisasi utang pengembang melalui BPPN tahun 2001 menjadi stimulus dan landasan berpijak yang baru bagi para pengembang untuk kembali menekuni proyek-proyek propertinya. Sejak itu pula bisnis properti bergerak kembali dan bahkan menjadi lokomotif yang menggerakkan gerbong perekonomian nasional pascakrisis.
Kapitalisasi proyek properti
Sejak tahun 2003, pertumbuhan bisnis properti nasional tidak bisa dibendung lagi. Akibatnya, nilai kapitalisasi proyek properti nasional mengalami lonjakan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Puncaknya terjadi tahun 2005, dengan nilai kapitalisasi bisnis properti Rp 91,01 triliun. Atau meningkat hampir sepuluh kali lipat dibandingkan dengan nilai kapitalisasi tahun 2000 yang ”hanya” Rp 9,51 triliun.
Pertumbuhan bisnis properti yang sangat fantastis itu tak terbendung lagi oleh gonjang-ganjing politik (pelaksanaan Pemilu 2004) dan kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), bahkan sebanyak enam kali terjadi sejak tahun 2004.
Nah, sekarang timbul pertanyaan, bagaimana dampak krisis finansial global itu terhadap bisnis properti Indonesia saat ini? Memang harus diakui sedikit banyak krisis finansial yang melanda dunia saat ini pastilah berdampak pada bisnis properti di Indonesia.
Bayangkan, di tengah krisis subprime mortgage di AS, yang pengaruh negatifnya langsung ditransmisikan ke negara-negara lain, seperti kawasan Eropa, Kanada, Australia, Hongkong, dan Singapura, bisnis properti nasional sama sekali tak terpengaruh. Harga properti yang berguguran di negara-negara lain sama sekali tidak terjadi di Indonesia.
Nah, dampak negatif yang berembus dari krisis subprime mortgage di AS dan kenaikan harga BBM yang sempat mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah terasa secara global, yakni berupa peningkatan laju inflasi yang sangat signifikan, bahkan merupakan laju inflasi tertinggi yang terjadi dalam 25 tahun terakhir.
Di Singapura, misalnya, yang perekonomiannya terkenal stabil dengan laju inflasi tahunan yang rata-rata cuma 2,5 persen, tahun ini diperkirakan inflasinya akan melonjak hingga 7,8 persen. Begitu pula di Malaysia, yang laju inflasinya hanya sekitar 3 persen, tahun ini akan menembus 7 persen. Adapun Australia yang laju inflasinya rata-rata hanya sekitar 4 persen tahun ini akan mencapai 7,5 persen.
Namun, jika menyimak nilai kapitalisasi proyek properti nasional sebagaimana terlihat pada tabel, tampak bahwa sejak tahun 2003 sektor properti di Indonesia dengan nilai Rp 50,7 triliun bertumbuh secara konsisten menjadi Rp 77,4 triliun hampir tidak mengenal masa resesi. Yang terjadi adalah, dari tahun ke tahun, sektor properti Indonesia bergerak dari booming yang satu ke booming yang lain. Bisnis properti Indonesia bergerak dari puncak gunung yang satu ke puncak gunung yang lain tanpa pernah tergelincir ke lembah.
Ekspansi bisnis properti pascakrisis tahun 2003 hingga 2008, kredit properti yang dipakai pengembang mencapai Rp 186,3 triliun, (lihat tabel) sebagian besar atau 64 persen senilai Rp 119 triliun adalah kredit pemilikan rumah (KPR). Sementara kredit konstruksi dan kredit real estat hanya mencapai 36 persen, masing-masing 21,9 persen atau senilai Rp 40,8 triliun adalah kredit konstruksi dan 14,22 persen atau Rp 26,5 triliun adalah kredit real estat.
Konsumen semakin pandai memilih proyek-proyek properti yang akan dibelinya dengan menyeleksi pengembang yang sudah teruji lolos dari krisis. Mereka semakin pintar untuk memilah pengembang yang kredibel dan memilih proyek yang sesuai dengan kemampuan ekonominya.
Mereka membeli sesuai dengan kebutuhannya. Tidak banyak konsumen yang menebar uang di banyak proyek properti sebagai ajang spekulasi. Mereka juga lebih berhati-hati dalam memilih proyek properti, dengan melihat bagaimana track record pengembangnya.
Kenapa sektor properti Indonesia tidak terpengaruh? Kenapa bisnis properti nasional seakan- akan begitu tangguh? Sekali lagi, hal ini merupakan anomali yang sulit dijelaskan. Ya, benar-benar merupakan ketidaklaziman dalam dinamika bisnis properti nasional.
Soalnya, pada masa lalu, ketika krisis moneter menerjang kawasan Asia, yang dimulai dari Thailand, justru Indonesia merupakan negara yang paling parah terkena dampaknya dibandingkan dengan negara lain, seperti Thailand, Malaysia, dan Korea Selatan. Dan, sektor properti Indonesia terperosok paling dalam ke kubangan krisis, di samping sektor keuangan dan perbankan.
Nah, dalam situasi krisis global yang terjadi belakangan ini, bisnis properti di Indonesia seakan- akan kebal dari penyakit ekonomi yang mengkhawatirkan banyak negara itu. Padahal, ketimbang negara lain, seperti Singapura, China, dan Uni Emirat Arab, bisnis properti Indonesia relatif masih tertutup bagi investor asing.
Tak pernah kehabisan
Para pengembang di Indonesia seperti tidak pernah kehabisan ”amunisi” untuk terus mengguyur pasar properti nasional dengan berbagai proyeknya. Buktinya, hanya dalam tempo dua tahun (2007-2009), tidak kurang dari 33.000 unit rumah susun sederhana milik (rusunami) diluncurkan para pengembang. Jika harga rusunami itu rata-rata Rp 175 juta per unit, nilai kapitalisasi dari proyek rusunami saja mencapai Rp 5,7 triliun.
Yang lebih fantastis, para pengembang juga terus merancang berbagai megaproyek properti lewat superblok. Pada masa mendatang, ekonomi Indonesia diperkirakan akan melaju rata-rata 7-9 persen per tahun, persis seperti sebelum terjadi krisis ekonomi. Indikasinya tampak jelas dari kinerja ekspor yang semakin mantap hingga menembus 100 miliar dollar AS tahun 2007.
Meski laju inflasi tahun 2008 akan cukup tinggi, yakni mencapai sekitar 12 persen, akibat kenaikan harga komoditas pangan internasional dan penyesuaian harga BBM di pasar domestik, pemerintah, Bank Indonesia, dan kalangan perbankan pada umumnya merasa sangat yakin bahwa laju inflasi akan kembali mereda pada tahun 2009, turun lagi ke level 6 persen-6,5 persen.
Nah, hal itulah yang membuat para pengembang sama sekali tak merasa ragu untuk terus meluncurkan proyek-proyek propertinya. Dengan demikian, bisnis properti yang terus bergairah sejak tahun 2002 akan menemukan momentum untuk mencapai booming pada tahun 2010-2011.
Fenomena seperti itu benar- benar merupakan sebuah anomali dalam sejarah bisnis properti Indonesia, bahkan dunia. Sebab, di mana pun juga tidak ada sebuah sektor ekonomi yang mampu terus-menerus selama satu dekade. Selalu ada proses alamiah yang membuat suatu usaha berkembang, lalu jeda sesaat atau melemah, untuk kemudian tumbuh lagi.
Salah satu faktor yang membuat para pengembang se- makin bersemangat membangun proyek-proyek propertinya adalah keyakinan bahwa pemerintah baru pada tahun 2009 akan membuat kebijakan terobosan. Salah satunya adalah membuka akses yang lebih luas bagi investor asing untuk masuk ke bisnis properti nasional.
Tak heran jika para pengembang terus meluncurkan proyek-proyek properti terpadu yang sangat prestisius, seperti StMoritz dengan nilai investasi Rp 11 triliun, Kemang Village (Rp 12 triliun), Ciputra Mall (Rp 14 triliun), Kuningan City (Rp 6 triliun), Kota Casablanca (Rp 7 triliun), Gandaria City (Rp 6,5 triliun), dan Tangerang City (Rp. 4,4 triliun).
Semua proyek properti itu seakan-akan merupakan antisipasi para pengembang menyambut hadirnya investor asing ke bisnis properti nasional pada kurun waktu 2009 dan seterusnya. Nah, jika semua skenario yang dipaparkan di atas terjadi, booming properti pada tahun 2010-2011 bukan hal yang mustahil terjadi.
Karena sikapnya yang sangat ”fanatik” terhadap properti sebagai instrumen investasi, para pengembang dari mancanegara pun semakin banyak yang menawarkan proyek-proyek propertinya ke Indonesia, seperti yang dilakukan para pengembang dari Singapura, Malaysia, Kanada, dan Australia. Bahkan, dalam dua tahun terakhir, pengembang dari AS juga gencar menawarkan proyek-proyek properti di New York dan California. Sumber Panangian Simanungkalit
5 Trik Menata Hiasan dalam Rumah
October 23, 2009 by Artawan
Filed under Kamar Tidur, Ruang Tamu, Tips Property
Banyak orang yang bingung bagaimana harus meletakkan benda-benda hiasan di dalam ruangan. Diletakkan tersendiri, jelek. Diletakkan berkelompok, juga nampak aneh. Agar tak kebingungan lagi, ikuti saja 5 trik berikut ini.
1. Jika meletakkan benda seni, foto atau lukisan di dinding, jangan meletakkannya di atas/melebihi ketinggian mata. Letakkan saja sekitar 150 cm dari lantai. Dengan cara ini foto atau lukisan Anda akan lebih nyaman dilihat.
2. Gunakan hiasan yang sesuai dengan skala ruangan. Pedoman yang umum digunakan adalah, gunakan 2/3 dari lebar dinding yang ada untuk berkreasi. Jika Anda tidak memiliki lukisan yang cukup besar, cobalah mengelompokkan beberapa barang dan letakkan secara berdekatan untuk memenuhi skala ruang yang ada.
3. Untuk menghindari kemonotonan, sebaiknya jangan meletakkan hiasan di rak meja dan rak di dinding berderet-deret seperti layaknya barisan tentara. Kemonotonan juga bisa timbul karena pengelompokan benda-benda yang sama persis. Jika memang harus menggunakan benda-benda yang sama, variasikan dengan menggunakan tinggi atau ukuran yang berbeda-beda.
4. Ada pedoman yang mengatakan ganjil lebih baik. Jadi, jika ingin melakukan pengelompokkan hiasan, letakkan hiasan dalam jumlah ganjil seperti 3, 5, dan seterusnya.
5. Usahakan dalam satu kelompok tidak terdapat perbedaan tekstur atau warna yang mencolok. Yang paling baik, kelompokkan benda-benda yang memiliki tekstur atau sifat yang mirip. sumber Nuniek S. Subagyo/Tabloid Rumah




