Mewaspadai Niat Jahat Menghancurkan Bali

September 9, 2010 by Artawan  
Filed under Berita Bali, Legalitas

Benda Sakral Bali Jatuh ke Tangan Bule Italia Roberto GambaOrang asing memang sudah lama melakukan kegiatan bisnis di Bali.  Diakui atau tidak  seperti halnya perkembangan pariwisata mereka juga yang mengenalkan Bali ke pentas dunia.

Lewat foto-foto tentang Bali, pulau kecil ini mulai memikat para pelancong mancanegara mulai era 1930-an. Lambat laun Bali semakin mendunia dan jutaan pasang mata terpincut hatinya. Pesona terhadap Bali itulah kemudian melahirkan berbagai julukan indah tentang Bali, sebagai ekspresi pengaguman. Tak dapat dimungkiri, orang asing berperan vital dalam perkembangan pariwisata Bali seperti saat ini.

Zaman bergulir cepat, Bali semakin molek. Tidak hanya karena kecantikan alaminya tetapi juga akibat polesan kosmetik di sana-sini. Bali kemudian semakin dicari, tidak hanya oleh pemburu keindahan, budaya, tetapi juga oleh pemburu harta. Tidak hanya orang asing, urang awak dan bahkan oleh orang asli Bali sendiri, ‘harta karun’ di pulau para dewa ini dikejar terus. Bali begitu menjanjikan uang berlimpah.

Ketika sikap serta kemauan kaum hedonis semakin tebal maka timbul banyak masalah, salah satunya adalah bisnis ilegal oleh orang asing. Sebenarnya hal ini sudah bisa dideteksi lebih awal oleh pihak imigrasi dengan melihat jenis visa yang diperoleh. Tetapi begitulah, saat ketamakan merajalela banyak oknum bermain dan saling melindungi satu sama lain.

Kerja sama mutualisme pun mengedepan. Orang asing tak bisa bekerja kalau dia tidak mendapat permit serta proteksi dari ‘orang dalam’. Alhasil, kegiatan ini banyak merugikan daerah ataupun negara walaupun secara jangka pendek mampu menyerap tenaga kerja.

Apa yang terungkap di media massa saat ini yakni soal pencurian pratima yang melibatkan Roberto Gamba serta beberapa orang lokal Bali membuat kita marah, kecewa, sakit hati, malu dan sebagainya. Roberto Gamba telah mengkhianati niat luhur para orang asing lainnya yang secara tulus ikhlas membantu Bali menuju pentas dunia. Roberto Gamba, pria Italia ini, sangat mencederai semangat kekerabatan orang asing yang menganggap Bali sebagai salah satu milik warisan budaya dunia yang harus dijaga keberadaannya. Roberto Gamba mewakili segelintir orang asing yang sebenarnya mau menghancurkan Bali dengan datang berpura-pura sebagai turis. Kita yakin masih banyak turis seperti Roberto Gamba. Untuk itulah kita berharap aparat keamanan serta masyarakat Bali eling dan waspada bahwa mereka kini tengah dalam proses penghancuran.

Sedangkan bagi orang lokal Bali seperti Gung Aji, Lanang Sidemen dan beberapa lainnya yang belum tertangkap entah kalimat, kata atau ungkapan apa yang paling tepat bagi mereka yang kelakuannya sangat jahat dan menyakiti umat Hindu ini. Rasanya tanah Bali tidak layak untuk mereka injak walau dikubur pun rasanya pertiwi ini menolak jasad mereka.

Kita maklumi seperti inilah perasaan umat Hindu saat ini. Hal ini merupakan pelajaran sangat mahal dan juga sebenarnya sebuah cermin bahwa segelintir masyarakat kita memang sangat menghamba pada harta benda. Mereka pun tidak peduli bagaimana cara mendapatkannya. Kita sebenarnya sudah memasuki era pralaya. sumber tajuk rencana Bali Post 9 September 2010

Touris Ubud dan Seni Tato

January 26, 2010 by Artawan  
Filed under Berita Bali

Liong Tato Ubud Gianyar Bali oleh DotlahpisSelain menikmati keindahan alam dan budaya, wisatawan yang berkunjung ke Ubud Bali juga menyempatkan diri untuk membuat tato. Salah satu seniman tato yang paling banyak dikunjungi adalah seniman tato Putu Nuarsa alias Liong.

Studio tato Liong ini terletak di di Jalan Hanoman, Ubud. Setiap harinya, studio tato ini selalu didatangi orang yang akan membuat tato, baik warga lokal Bali hingga wisatawan asing.

“Saya mulai membuka studio tato ini sejak tahun 1985. Awalnya hanya studio sederhana dengan peralatan standar yang sederhana,” kata Liong belum lama ini.

Seiring perjalanan waktu, studio tato Liong semakin banyak dikunjungi pecinta tato khususnya wisatawan asing yang sedang berlibur ke Ubud.

“Di sini saya menyediakan ratusan contoh gambar tato mulai motif Maori, motif Jepang, hingga motif khas Bali,” jelasnya.

Menurut Liong, wisatawan yang datang ke studio tatonya lebih banyak yang memilih motif khas Bali seperti gambar ukiran atau Patra Bali hingga gambar Barong.

“Ada turis menganggap tato motif Bali sebagai cendera mata saat berlibur ke Bali. Mereka pun rela membayar jutaan rupiah untuk ditato,” kata Liong.

Demi kepuasan para pelanggan, Liong selalu menjaga kualitas artistik gambar serta menerapkan standar kebersihan yang tinggi.

Selain memakai sarung tangan saat bekerja membuat tato, Liong selalu mensterilkan alat tato dan memakai jarum baru.

“Ini saya lakukan untuk memuaskan pelanggan. Alat tato selalu saya jaga kebersihannya agar orang yang saya tato senantiasa terjaga kesehatannya,” pungkas Liong. Source Berita Bali